webnovel

Mengingat Kebrutalan

Rafael terbaring lemas di ranjang, memeluk punggung Indah yang masih bugil. Nafasnya terdengar teratur sekarang, siapa sangka efek afrodisiak itu bertahan sangat lama, dia sedang tertidur sekarang.

Indah yang sayup-sayup mulai membuka matanya, dia merasa nyeri di sekujur tubuhnya, terlebih lagi pada bagian pusat tubuhnya.

Semalam Rafael menyerangnya berkali-kali, ia bahkan sampai pingsan dua kali.

Dengan tangannya yang masih gemetar, dia melepaskan pelukan Rafael pada pinggangnya. Kepalanya terasa pening, dia hampir terjatuh saat berusaha untuk berdiri.

Suara tangisan kecil Indah terdengar samar, air matanya terus mengalir tanpa meminta dengan deras.

Saat dia menarik selimut dari atas kasur untuk menutupi tubuhnya, sebuah kunci terjatuh kelantai. Indah lalu memungut kunci itu, berjalan ke arah pintu dan membukanya menggunakan kunci di tangannya.

___

Beberapa pelayan berdiri ketakutan di depan pintu kamar, mereka sangat khawatir dengan keadaan tuan mereka yang tak kunjung bersuara dari dalam kamar.

"Sekarang sudah pukul dua siang, mengapa tuan tak mengizinkan kita masuk? dan bahkan mengabaikan kita di depan pintu?" ucap seorang pelayan dengan tubuh pendek.

"Atau jangan-jangan tuan tak sadarkan diri lagi di dalam?" pelayan yang terlihat kurus mulai merasa panik.

Sejak pagi tadi, saat para pelayan mulai membawakan sarapan, tuan mereka tak menjawab sama sekali saat mereka mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.

Berkali-kali mereka bolak balik mengetuk secara bergantian, namun hasilnya masih nihil.

Dan pada saat jam makan siang, tuan mereka masih tak kunjung menyahut dari dalam. Mereka ingin masuk, tapi mengingat watak dari tuannya yang sangat menjaga privasinya dari siapapun, membuat mereka mengurungkan niat mereka.

Apa lagi tuan mereka juga pada dasarnya tak perna berbicara pada mereka, para pelayan dan bahkan pihak keamanan di rumah itu terlihat sangat frustasi.

Jika saja Aldy berada disini, masalah ini pasti akan mudah terselesaikan. Sekarang Aldy sedang sibuk mengurusi perusahaan, Rafael telah memberikan perintah untuk mengambil alih posisinya sementara sampai ia sehat kembali.

Bahkan Monica orang mungkin bisa membantu, juga menghilang dari tadi pagi.

Di ujung lain, Nadin juga sangat terlihat panik. Sama hal nya dengan Rafael, Indah juga tak perna membuka pintu kamarnya sedari tadi pagi.

Nadin berusaha membujuk dari luar pintu, namun tak ada tanggapan apa pun dari dalam kamar Indah, dia tak perna seperti ini sebelumnya, apa ada sesuatu yang telah terjadi? pikirnya.

"Indah, kumohon jawablah! apa kamu sedang ada masalah?" Nadin terdengar sangat khawatir. Namun masih tak ada jawaban dari dalam.

"Dasar bodoh! untuk apa kamu mengurusi perempuan aneh itu? yang harus kamu pikirkan sekarang bagaimana caranya mengetahui keadaan tuan!" salah seorang pelayan berambut pendek mendekati Nadin, berbicara dengan nada sinis.

"Apa maksudmu? tuan sudah mempercayakan nona Indah padaku, jadi jika terjadi sesuatu padanya tuan bisa marah besar!" ucap Nadin dengan nada tidak senang.

"Ck... Perempuan menjijikan seperti itu apa bagusnya, dan sepertinya kamu sangat senang berdekatan dengannya?" ucap Tuti menyelidik.

"Tentu saja aku harus bersikap seperti itu, bagaimana bisa aku harus membenci orang yang di perintahkan oleh tuan harus ku layani?" Nadin berusaha menjawab dengan hati-hati. Tuti ini orangnya sangat picik, dia tidak berbedah jauh dari Monica.

"Benarkah? tapi mengapa yang kulihat seolah kalian seperti menyembunyikan sesuatu!" ucap Tuti menyeringai.

"Apa maksudmu? berhentilah bicara omong kosong!" geram Nadin.

"kamu bisa mengelak semaumu, tapi jika aku menemukan sesuatu yang aneh, baik dengan mu atau perempuan aneh itu, jangan harap aku hanya akan diam saja!" ancam Tuti dan berlalu meninggalkan Nadin yang mulai kesal.

Di dalam kamar mandi, Indah yang sedari tadi merendam tubuhnya di dalam bathup terus menangis sejak pagi tadi.

Indah masih mengingat dengan jelas, bagaimana Rafael menyentuh tubuhnya dan mengambil keperawanannya.

Dia bahkan masih merasakan nyeri pada setiap inci tubuhnya terutama pada pusat tubuhnya. Sekujur tubuhnya di penuhi dengan bekas merah akibat ulah Rafael yang menggila semalam.

Di bawah matanya terlihat garis hitam yang sangat jelas, sejak semalam ia tak perna tertidur sampai sekarang. Pikirannya terus mengingat perlakuan Rafael padanya.

"Hiks..hiks.. Dasar bajingan!" Indah kembali menangis dengan sangat keras.

Di bagian lain sebelah kamar, Rafael yang semula terlelap mulai terbangun karena mendengar suara gaduh dari depan pintu kamarnya.

Kepalanya terasa sedikit pusing, secara perlahan dia bangun terduduk di atas kasur. Angin yang tiba-tiba datang dari arah jendela menerpa kulitnya yang masih dalam keadaan bugil.

Seketika Rafael merasa menggigil, menyadari tubuhnya yang telanjang bulat membuat dirinya terkejut setengah mati. Apa lagi melihat keadaan ranjangnya yang sangat berantakan dan sedikit basah.

Para pelayan di luar pintu kamar terus mengetuk-ngetuk dari luar, membuat Rafael menjadi jengkel. Rafael lalu mengambil sebuah buku tebal yang berada di atas meja yang terletakk di samping ranjang.

BUK.. Suara barang di banting terdengar dari balik pintu, Rafael melemparkan buku itu ke arah pintu dan membuat para pelayan dan pihak keamanan di luar pintu terdiam.

Dengan kepalanya yang masih terasa pusing, dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

SYURRR...

Saat Rafael melangkah masuk, suara guyuran air dari shower terdengar. Siapa yang menyalakan shower? pikir Afnan.

Tapi karena kepalanya yang masih terasa pusing membuatnya mengabaikan shower itu.

Melangkah ke arah washtafel dan mencuci wajahnya, apa yang terjadi semalam? mengapa dia merasa seperti melupakan sesuatu? batin Rafael.

Rafael lalu lanjut membersihkan tubuhnya dengan air hangat, berusaha menyegarkan tubuhnya setelah tertidur begitu lama. Bagaimana bisa dirinya kesiangan sampai jam dua siang? Rafael tak habis pikir.

Setelah dia selesai mandi, Rafael segera mengambil sebuah handuk yang tergantung disudut. Rafael merasa menginjak sesuatu di bawah kakinya.

"Apa ini?" Rafael memungut sebuah pakaian yang sudah basah tergeletak di lantai.

DEG.. pakaian ini?

jantung Rafael seketika berdetak sangat kencang, membuat aliran darahnya mengalir dengan sangat cepat menuju otaknya.

Bayangan dirinya bersama Indah terlampir di kepalanya seperti sebuah gambar di kertas film.

semua kejadian dari saat pertama dirinya menarik Indah secara paksa kedalam kamar, dan saat dirinya merobek dengan kasar pakaian Indah yang sedang berada di tangannya sekarang.

Dan bahkan dia telah..... dia telah mengambil kehormatan Indah secara paksa semalam.

Ingatan itu seperti batu besar yang terus menimpanya, seiring dengan ingatan yang satu perasatu muncul di kepalanya.

Mengingat malam yang paling nikmat dan bersamaan paling brutal dalam hidupnya, membuatnya menjadi sangat Frustasi.

Next chapter