webnovel

.. Kejadian Kemarin ..

Sembilan sem...bi... la...n hoh..., se...ra..tus... Huaaa... Capek banget huaah...

Dengan nafas tersenggal-senggal Ell menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.

Sepertinya ia tak terima ucapan ku kemarin, jadi ia berolah raga seharian ini dan sekarang ia telah menyelesaikan sit up 100 kali sebelum tidur. Padahal badanya tak melebar terlalu banyak.

"Heh! Lo lebay banget sih, badan lo paling cuman nambah sekilo doang. Ngapain olah raga seharian, yang ada besok pas bangun tinggal tulang lagi hahaha," ledek ku pada ia yang tak lagi berdaya.

"Lo kayak gak tau gua aja, " jawabnya lemas sambil beranjak tempat berbaring, yang kini di atas tikar.

"Huu...f, lo mah enak Ra, mau naik atau turunin badan. Nah gua? Gak semudah itu," sambungnya.

"Ah lo ini, harusnya lo bersyukur! Coba deh lo bayangin kalau gua jadi lo!" ucapku sambil menelungkupkan badan di pinggir kasur.

Ell melirikku dan mengerutkan alisnya, mungkin ia tak memahami maksudku atau merasa aneh dengan ucapanku.

"Maksud gua itu, kalau gua jadi lo Ell. Di saat badan gua naik, gua harus olah raga kayak lo sekarangkan? Lo kan tau gua mudah tumbang."

"Iya juga sih, heheh... Ntar kayak kemarin lagi."

Seketika ucapan Ell itu mengingatkanku pada kejadian kemarin yang entah bagaimana.

"Oh ya, kemarin gua ngapain aja Ell?"

"Idih... Pertanyaan lo ngambang tau gak. Bilang aja, Ell... apa yang terjadi setelah cowok itu datang nyelamatin aku? Hahaha...hahaha... " ledeknya sambil tertawa keras.

"Ii...h rese lo ya!" sorakku padanya sambil ku timpa ia dengan sebuah bantal.

"Ya udah, emang itu maksud gua, puas lo," sambungku dengan kesalnya.

"Hm... " Ell tersenyum meledekiku lagi.

"Aa... Serius E...ll, Sebenarnya gua udah gak sadar lagi tu pas balik arah." Dengan nada rendah ku ucap, agar ia mau memberikan penjelasan itu padaku.

"Berarti lo juga gak tau kan cowok itu siapa?"

Aku pun menggeleng dengan cepat.

"Gua juga gak tau sih detailnya gimana, Hmm Waktu itu gua kira lo ngobrol loh sama dia. Jadi gua bantuin tu si adek, trus pas gua lihat lo, lo udah pingsan aja, Ra."

"Gua gak aneh-aneh kan waktu itu?"

"Gak aneh sih, tapi... Lebih romatis aja dari pada Jimy, heheheh..."

Jimy? Spontan memoriku langsung mengingat pemilik nama itu. Waktu itu saat upacara bendera, aku merasa pusing. Kemudian aku terjatuh dan ia bersorak dengan kerasnya mengatakan,

"BEBEBH GUA PINGSA...N" iiss.... betapa gelinya aku mengingat hal yang menyangkut Jimy. Aku berharap ia bukan jodohku amin.

"Iiih Ii...ih... Lo apaan sih, Ell. Ngingatin gua aja, itu gak romantis tau!" ucapku dengan juteknya.

"Hahahhaa... Trus yang romantis sama siapa? Sama ketua kelas? Atau sama si Ali?. Hahahhaha... Hahahahaha... " tawa Ell kali ini lebih dasyat dari sebelumnya.

"Gak ada satupun dari ke tiga cowok itu," jawabku cetus.

"Aneh lo ya Ra... Sebenarnya kisah cinta lo itu romantis semua, cuman gak pernah ada ujungnya."

"Gak semua juga kali, lebay lo."

"Iya sih, tapi ni ya, Ra. Sebenarnya gua sempat iri loh sama lo, soalnya kisah cinta lo itu romantis kayak di drama-drama gitu."

"Romantis sih romantis, tapi bikin hati gua tersiksa. Itu tu kayak cobaan aja tau gak! Hmm... Andai gua tau jodoh gua siapa, pastinya gua bakal suka sama dia aja," jawabku pelan.

"Heh! Jodoh itu rahasia...! Kalau gitu gua juga mau."

Kini pembicaraan sedikit melenceng dari tujuanku sebenarnya. Ell belum menjelaskan semua, aku jadi penasaran. Kalo percaya sama ingatan sendiri juga gak bisa. A...h

"Lo ngapai bengong?, pasti masih kepikiran soal kemarin kan?"

"Gak ah."

"Masa sih?, Lo tau gak?" ia membuatku penasaran lagi.

"Apa?"

"Cowok kemarin itu ternyata kakak adek sama adek yang kita tolong kemarin."

"Oouh... Pantas aja dia tiba-tiba datang nolongin kita."

"Lebih tepatnya mungkin nolongin lo" sambil tersenyum aneh tampaknya Ell menyimpan sesuatu.

"Ya iya lah, kan gua nolongin adeknya. Jadi wajar dong dia juga nolongin gua," jawabku sedikit kesal.

"Kira-kira kalau gau cerita lanjutannya lagi, lo bakal seneng gak dengernya?"

"Enggak Ah, lo cerita kelamaan. Gua udah bosan!" ucapku sambil mengambil posisi tidur dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.

* *

Suasana hening sampai Ell selesai membersihkan segala urusannya dan berbaring di kasur. Aku hanya diam seperti orang tidur, dengan otak yang masih memikirkan kejadian kemarin.

Hayalan keruh berputar-putar mencari jawaban yang benar. Aku hanya tak ingin membuat malu diri sendiri meski saat tak sadar sekalipun.

"Lo udah tidur ya?, padahal gua mau ngasih tau lanjutannya ni..." ia membuka selimut yang menutupi wajahku.

"Oh bagus deh kalau udah tidur. Kalo gua kasih tau lo sekarang pastinya lo gak bakalan ngamuk dan pukulin gua kan, Ra." sambungnya yang masih ku dengar dengan mata tertutup.

"Jadi sebenarnya dia itu cowok yang udah nyenggol lo waktu itu."

Apa ? Dia lagi ? Aduh sabar Ra sabar. Nanti aja protesnya, ntar gak selesai lagi ceritanya. Aku hanya mencoba menahan diri dari banyaknya pertanyaan yang muncul di otakku.

"Dan sebenarnya lo pingsan dipelukannya, untung aja lo lagi tidur kalau eng--"

"Pelukannya?, kenapa lo gak sorakin aja dia, bilang jangan pegang-pegang atau apa lah !!, mending gua dijatuhin aja!, terus dia apain gua Ell? Emang lo gak bisa rebut gua aja gitu?" potongku dengan penuh emosi yang tak tahan lagi untuk menahan diri dari rentetan pertanyaan yang sudah memenuhi otakku.

"Tu kan lo marah-marah, gua tidur dulu ya," jawabnya dengan lemas.

"Ell Jawaa...b !!!." sorakku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

"Gimana gua mau bantuin lo, gua lagi mapah adeknya. Lo kan jauh dari gua! Lagian dia gak ngapa-ngapain kok. Dia juga syok lo pingsan di dadanya, jadi dia peluk lo biar gak jatoh. Mungkin dia mikir karna jalannya coran yang gak rata itu, kalau jatoh sakitnya dua kali lipat dari jalan aspalkan."

"Terus?" dengan nada biasa yang sedang sabar meredam pikiran buruk yang sejak tadi menggangguku.

"Dia cek nafas di hidung lo doang pake tangannya. Pas gua datang, gak lama setelah itu lo sadar. Ya udah gua mapah lo dan dia gendong adeknya. Terus kita sama-sama pergi, udah gitu doang."

"Ooouh... Hmm" jawabku dengan hati yang belum tenang.

"Udah? lagian lo kan gak sadar, itu namanya gak sengaja Azzahra...! Lebay lo Ra."

Sejenak suasana menjadi hening, dan entah mengapa dadaku sesak. Kata-kata terakhir Ell membuatku ingat banyak hal yang menyayat hati ini.

"Gua tau gua lebay, gua sensitif, gua ribet, gua lemah, tapi mau bagaimanapun gua juga gak mau nyusahin orang-orang di sekitar gua. Gua juga gak mau membuat orang lain khawatir sama keadaan gua.  Adai aja gua kuat, pastinya gua gak bakalan merasa malu setiap kali gua pingsan. Gua gak bakalan--"

"Maafin gua ya Ra, maaf kalo kata-kata gua tadi nyakitin lo. Gua gak bermaksud gitu kok Ra," potongnya sambil memelukku.

Isak tangis memenuhi seluruh ruangan. Tak ada lagi suara alam yang menandingi tangisan aku dan Ell.

Entah mengapa otakku belum berhenti memikirkan omongan teman-teman yang tak menyukaiku waktu dulu. Yang selalu mengatakan aku lemah, aku lebay, hidupku penuh sandiwara, mencari-cari perhatian dan sebagainya. Hal itu lah yang membuat aku khawatir atas gerak tubuh ku di saat aku tak sadar. Aku hanya tak ingin mendengarkan hal itu lagi di kehidupanku sekarang.

Sejujurnya aku tentu tak ingin menjadi lemah, karena selalu mendapatkan ejekan dari orang-orang yang terlihat baik sekalipun. Aku tahu tak semua orang dapat paham situasi yang ku hadapi saat ini. Mungkin mereka hanya tak tahu bagaimana aku sejak saat itu.

Entah mengapa malam ini terasa kelam dan penuh luapan emosi. Pembicaraan kami kali ini tidak sebaik biasanya. Ku harap esok kembali seperti biasa.

Maaf ya chap kali ini emang agak kurang menyenangkan. Soalnya lebih membahas karakter si tokoh utama yang sangat lebay itu

Maaf jika ceritanya lambat berkembang, tapi ada pesan yang terselip di setiap chapnya. Semoga teman-teman tidak bosan membaca.

Karena saya pemula mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan.

Terimakasih...

Tulliplly_23creators' thoughts
Next chapter